| Departemen Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Anggaran |
| Mengatasi Dampak Krisis Global Melalui Program Stimulus Fiskal APBN 2009 |
| Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara - 24/02/2009 9:19:21 |
| Back |
|
I. PENDAHULUAN
Krisis finansial global yang menyebabkan menurunnya kinerja perekonomian dunia secara drastis pada tahun 2008 dan diperkirakan masih akan terus berlanjut, bahkan akan meningkat intensitasnya pada tahun 2009. Perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia, selain menyebabkan volume perdagangan global pada tahun 2009 merosot tajam, juga akan berdampak pada banyaknya industri besar yang terancam bangkrut, terjadinya penurunan kapasitas produksi, dan terjadinya lonjakan jumlah pengangguran dunia. Bagi negara-negara berkembang dan emerging markets, situasi ini dapat merusak fundamental perekonomian, dan memicu terjadinya krisis ekonomi. Kekhawatiran atas dampak negatif pelemahan ekonomi global terhadap perekonomian di negara-negara emerging markets dan fenomena flight to quality dari investor global di tengah krisis keuangan dunia dewasa ini, telah memberikan tekanan pada mata uang seluruh dunia, termasuk Indonesia dan mengeringkan likuiditas dolar Amerika Serikat di pasar domestik banyak negara. Hal ini menyebabkan pasar valas di negara-negara maju maupun berkembang cenderung bergejolak di tengah ketidakpastian yang meningkat. Sebagai negara dengan perekonomian terbuka, Indonesia meskipun telah membangun momentum pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, tidak akan terlepas dari dampak negatif pelemahan ekonomi dunia tersebut. Krisis keuangan global yang mulai berpengaruh secara signifikan dalam triwulan III tahun 2008, dan second round effect-nya akan mulai dirasakan meningkat intensitasnya pada tahun 2009, diperkirakan akan berdampak negatif pada kinerja ekonomi makro Indonesia dalam tahun 2009 baik di sisi neraca pembayaran, neraca sektor riil dan APBN. Dampak negatif yang paling cepat dirasakan sebagai akibat dari krisis perekonomian global adalah pada sektor keuangan melalui aspek sentimen psikologis maupun akibat merosotnya likuiditas global. Penurunan indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai sekitar 50 persen, dan depresiasi nilai tukar rupiah disertai dengan volatilitas yang meningkat. Sepanjang tahun 2008, nilai tukar rupiah telah terdepresiasi sebesar 17,5 persen. Kecenderungan volatilitas nilai tukar rupiah tersebut masih akan berlanjut hingga tahun 2009 dengan masih berlangsungnya upaya penurunan utang-utang (deleveraging) dari lembaga keuangan global. Selengkapnya ... Mengatasi Dampak Krisis Global Melalui Program Stimulus Fiskal APBN 2009 (download file 434 Kb) Ringkasan Isi File : I. PENDAHULUAN II. DAMPAK KRISIS GLOBAL TERHADAP PEREKONOMIAN & PENDAPATAN NEGARA THN 2009 II.1 Dampak Penurunan Pertumbuhan Ekonomi dan Depresiasi Nilai Tukar terhadap Perekonomian II.2 Kinerja Indikator Ekonomi Makro Lainnya II.3 Kenaikan biaya utang, khususnya atas imbal hasil surat berharga negara, secara signifikan II.4 Dampak Perubahan Indikator Ekonomi Makro Terhadap Pendapatan Negara III. PROGRAM STIMULUS FISKAL 2009 III.1 Memelihara dan/atau Meningkatkan Daya Beli Masyarakat III.2 Menjaga Daya Tahan Perusahaan/Sektor Usaha dalam Menghadapi Krisis Global III.3 Menciptakan Kesempatan Kerja dan Menyerap Dampak PHK melalui Kebijakan Pembangunan Infrastruktur Padat Karya IV. POSTUR APBN DAN PEMBIAYAAN DEFISIT ANGGARAN 2009 IV.1 Penyesuaian Postur APBN 2009 IV.2 Penyesuaian Target Pembiayaan 2009 |