Personality Seorang Pemimpin
Kesekretariatan - 11/13/2014 3:59:01 PM
Tak dapat dipungkiri, melahirkan pemimpin yang ideal tidak bisa dibentuk dalam waktu singkat. Namun, proses pembentukan untuk menjadi pemimpin bisa disampaikan melalui berbagai jalan dan kesempatan, salah satunya melalui sharing session.
 

 
Nota Keuangan dan APBNP 2014
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
Dalam rangka mengendalikan dan mengamankan pelaksanaan APBN tahun 2014 dan menjaga defisit APBN dalam batas yang aman, perlu dilakukan langkah-langkah konsolidasi fiskal, pada komponen-komponen utama APBN. Langkah tersebut meliputi optimalisasi penerimaan, baik pajak maupun bukan pajak; efisiensi dan pengendalian belanja negara; serta peningkatan kapasitas pembiayaan anggaran.
 

 

 
 
 
Kebijakan Ekonomi Makro 2007 (2)
Sistem Penganggaran
Printable View

Berikut adalah tulisan kedua dari dua tulisan. Pada tulisan pertama membahas tentang kondisi ekonomi makro baik dalam negeri maupun luar negeri yang melatarbelakangi pemerintah dalam menyusun RAPBN 2007. Sedangkan pada tulisan kedua membahas langkah-langkah yang akan ditempuh oleh pemerintah untuk lebih menggairahkan perekonomian nasional.

Meskipun demikian, pemerintah sepenuhnya menyadari bahwa langkah-langkah tersebut juga mengandung konsekuensi terkendalanya upaya-upaya percepatan pertumbuhan ekonomi. Kinerja pertumbuhan ekonomi dalam tahun 2005 yang sebelumnya kita harapkan dapat tumbuh sekitar 6 persen, dalam realisasinya hanya tumbuh sebesar 5,6 persen. Dalam tahun 2006, perekonomian diharapkan dapat tumbuh sekitar 5,9 persen, meskipun lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya sebesar 6,2 persen.

Terhambatnya proses akselerasi pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir selain merupakan kendala bagi upaya-upaya pencapaian sasaran-sasaran lainnya seperti penanggulangan masalah pengangguran dan kemiskinan, sekaligus merupakan tantangan bagi kita semua di masa datang untuk mewujudkannya. Dalam kerangka mewujudkan tantangan-tantangan inilah RAPBN 2007 disusun. Dengan mempertimbangkan dinamika perekonomian domestik serta memperhatikan perkembangan lingkungan ekonomi global yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, maka pembangunan ekonomi Indonesia ke depan masih akan dihadapkan pada sejumlah tantangan yang harus disikapi secara serius dan sungguh-sungguh serta dengan langkah-langkah yang lebih nyata.

Beberapa tantangan dimaksud antara lain mencakup:

Pertama, memelihara dan memantapkan stabilitas ekonomi makro sebagai prasyarat bagi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Perhatian terhadap upaya menjaga dan memantapkan stabilitas ekonomi makro ini tetap dirasa penting, mengingat adanya potensi gejolak eksternal terkait dengan tingginya harga minyak dunia, dan ketidakseimbangan global (global imbalances) aliran likuiditas global jangka pendek, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi stabilitas moneter dan ketahanan fiskal dalam negeri. Upaya pemeliharaan dan pemantapan stabilitas ekonomi makro tersebut antara lain mencakup langkah-langkah mengatasi dampak gejolak ekonomi domestik dan global, seperti laju inflasi dan suku bunga yang masih relatif tinggi, serta memperkuat koordinasi dan efektifitas kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil.

Kedua, mendorong peningkatan akselerasi pertumbuhan ekonomi dengan mengembangkan sumber-sumber pertumbuhan yang lebih berimbang, yaitu yang lebih bertumpu pada peran investasi dan ekspor non migas. Akselerasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, dan terjaganya stabilitas ekonomi makro, disertai dengan upaya pembenahan yang sungguh-sungguh pada sektor riil, pada gilirannya akan dapat mendorong peningkatan investasi.

Ketiga, menciptakan lapangan kerja yang lebih luas dalam rangka menurunkan tingkat pengangguran dan kemiskinan. Mengingat kemampuan ekonomi untuk menciptakan lapangan kerja masih terbatas, maka diperlukan strategi kebijakan yang tepat dengan menempatkan prioritas pada sektor-sektor yang mempunyai efek pengganda tinggi terhadap penciptaan kesempatan kerja.

Keempat, menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif. Penciptaan iklim investasi yang lebih kondusif ini merupakan salah satu tantangan yang cukup besar bagi pemerintah dewasa ini. Komitmen perbaikan iklim investasi tersebut telah mulai dilakukan pemerintah dengan diluncurkannya paket kebijakan investasi pada bulan Februari lalu, yang mencakup perbaikan di bidang peraturan perundang-undangan, pelayanan, dan penyederhanaan prosedur dan birokrasi.

Kelima, meningkatkan ketersediaan infrastruktur yang memadai dan berkualitas. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa ketersediaan infrastruktur yang memadai dan berkualitas merupakan prasyarat agar Indonesia dapat mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi dan berkelanjutan, yang diperlukan untuk menciptakan lapangan kerja. Beberapa survey yang dilakukan terhadap dunia usaha, mengidentifikasi bahwa kurangnya ketersediaan infrastruktur yang memadai merupakan kendala bagi masuknya investasi. Kurangnya pasokan energi listrik, keterbatasan jaringan telekomunikasi, serta kepadatan jalan telah menjadi persoalan mendasar bagi upaya peningkatan investasi dan daya saing ekspor non migas kita.

Keenam, meningkatkan daya saing ekspor. Pertumbuhan ekspor yang tinggi diperlukan selain untuk menopang pertumbuhan ekonomi tinggi dan berkelanjutan juga untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih luas.

Ketujuh, meningkatkan partisipasi swasta. Mengingat terbatasnya sumber daya pemerintah dalam pembiayaan pembangunan, peningkatan partisipasi swasta melalui kemitraan antara pemerintah dengan swasta (public-private partnership) merupakan tantangan yang cukup penting, khususnya terkait pembiayaan investasi dalam penyediaan infrastruktur.

Kedelapan, membangun landasan yang semakin kuat untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di masa-masa mendatang.


 
 
                   
Copyright 2005 Direktorat Jenderal Anggaran
Jalan Dr. Wahidin No. 1 Gedung Sutikno Slamet Lantai 4 Jakarta Pusat 10710
users online
Website ini ditulis oleh R. Koswara Adisaputra, Pusat Informasi dan Teknologi Keuangan untuk Direktorat Jenderal Anggaran












// -->