Meningkatkan Kualitas Analisis Laporan Keuangan
Kesekretariatan - 9/17/2014 4:24:19 PM
Mengetahui dasar-dasar akuntansi dalam rangka menganalisis laporan keuangan sangat berguna dalam penyelesaian pekerjaan. Diharapkan output workshop tersebut sejalan dengan keinginan pimpinan DJA
 

 
Nota Keuangan dan RAPBN 2015
Kesekretariatan
Tahun 2015 merupakan tahun awal pelaksanaan RPJMN ketiga (2015-2019). Berlandaskan pada pelaksanaan, pencapaian, dan keberlanjutan RPJMN kedua (2009-2014), RPJMN ketiga tersebut difokuskan untuk lebih memantapkan pembangunan secara menyeluruh di berbagai bidang dengan menekankan pencapaian daya saing kompetitif perekonomian berlandaskan keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang berkualitas serta kemampuan ilmu dan teknologi yang terus meningkat. Dengan berbasis tujuan tersebut, serta dengan memperhatikan tantangan yang mungkin dihadapi, baik domestik maupun global, maka disusun perencanaan pembangunan tahunan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP.
 

 

 
 
 
Harga Minyak 150 Dolar Batas Daya Tahan APBN 2008
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
Printable View

JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2008 masih bisa terkendali jika harga minyak mentah dunia mencapai 150 dolar AS per barel. Hal ini mengingat kenaikan harga minyak juga berpengaruh ke sisi pendapatan negara.

"Saat ini, seluruh dunia terkena dampak tingginya harga minyak, terutama terhadap negara importir minyak. Sudah kita skenariokan (harga minyak) sampai 150 dolar AS per barel, bahkan lebih dari itu dalam posisi aman dari sisi pencapaian APBN yang tidak menambah defisit," kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu, di Jakarta, kemarin.

Alasan APBN 2008 masih kuat menahan lonjakan harga minyak itu, menurut Anggito, karena sampai bulan Juni 2008 APBN masih surplus dan sisi pembiayaan juga masih membantu pencapaian anggaran di tahun ini. "Kita bisa membuat berbagai prognosa sementara dengan berbagai skenario harga minyak. Jadi tidak ada masalah. Artinya tidak akan menimbulkan tambahan defisit yang tidak bisa dibiayai," ujarnya.

Sampai bulan Juni 2008, kata Anggito, rata-rata harga minyak Indonesia (Indonesia crude price/ICP) dari Januari hingga Juni 2008 memang sangat tinggi, yaitu mencapai 122 dolar AS per barel. Angka ini jauh di atas asumsi APBN Perubahan 2008 yang sebesar 95 dolar AS per barel. "Kita juga sudah membuat berbagai macam skenario harga, sampai dengan prediksi OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak). Memang diproyeksikan sampai 175 dolar AS per barel hingga akhir tahun, jadi kita lakukan berbagai skenario dan ternyata tidak menimbulkan destruksi dalam fiskal," ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro. Menurut dia, tingkat harga minyak dunia yang sudah mencapai di atas 140 dolar AS per barel masih aman terhadap RAPBN Perubahan 2008. "Sampai ICP 150 dolar AS per barel pun, APBN masih aman," katanya.

Menurut dia, kenaikan harga minyak berpengaruh ke sisi pendapatan dan pengeluaran. Saat ini seluruh dunia terkena dampak tingginya harga minyak. "Negara lain juga pusing. Saat pertemuan di Jeddah beberapa waktu lalu, semua pusing," kata Purnomo.

Berdasarkan lonjakan harga minyak mentah pasar Asia yang dilansir Reuters, harga minyak melanjutkan penguatannya di pasar London dan menembus rekor 146 dolar AS per barel. Harga minyak diprediksi menembus 150 dolar AS per barel setelah 4 Juli.

Secara terpisah, Ketua Umum Kadin Indonesia MS Hidayat mengatakan, pemerintah hanya bisa mengantisipasi dampak kenaikan harga minyak dunia tersebut jika bisa merealisasikan peningkatan produksi minyak yang siap dijual (lifting) serta efisiensi baik dalam produksi maupun distribusi bahan bakar minyak (BBM).

"Kalau tidak, harga BBM bersubsidi pasti naik lagi. Namun, jika harga minyak dunia terus naik, bahkan mencapai 170 dolar AS per barel, saya bisa pastikan kalangan industri dan dunia usaha akan mengalami stagnasi, bahkan tidak sedikit yang akan bangkrut. Ini karena selama ini, kita sudah membeli BBM sesuai harga pasar. Belum lagi masalah harga batu bara dan gas sebagai energi alternatif juga ikut naik. Sementara ekonomi biaya tinggi dalam berinvestasi dan berusaha di Indonesia belum bisa diberantas. Jadi kalau harga minyak naik terus, entah bagaimana lagi bentuk keterpurukan industri," kata Hidayat. (Indra/Bayu/Andrian)


 
 
                   
Copyright 2005 Direktorat Jenderal Anggaran
Jalan Dr. Wahidin No. 1 Gedung Sutikno Slamet Lantai 4 Jakarta Pusat 10710
users online
Website ini ditulis oleh R. Koswara Adisaputra, Pusat Informasi dan Teknologi Keuangan untuk Direktorat Jenderal Anggaran












// -->